Ekstremitas dalam Islam

islam-is-peaceUMAT Islam dalah umat pertengahan atau moderat (ummatan wasathan). Karena itu, tidak ada tempat bagi “ekstremisme” dalam pemikiran dan perilaku umat Islam.

Demikian dikemukakan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Al-Shohwah Al-Islamiyah Bain Al-Juhud Wa Al-Tatharruf (Al Ummah, Qatar 1402 H) yang diterjemahkan menjadi Islam Ekstrem, Analisis dan Pemecahannya (1992).

Menurut Al-Qaradhawi, tatharruf diniy (ekstremitas agama) adalah suatu sikap yang melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam agama. Di antara konsekuensinya adalah lebih dekat kepada kebinasaan dan bahaya.

Dikemukakan Al-Qaradhawi, nash-nash Islam selalu menyeru kepada i’tidal (sikap moderat) dan melarang sikap berlebih-lebihan yang diistilahkan dengan ghuluw (kelewat batas), tanathu’ (sok pintar), serta tasydid (mempersulit).

Rasulullah Saw bersabda, “Hindarkanlah darimu sikap melampaui batas dalam agama karena sesungguhnya orang-orang sebeluim kamu telah binasa karenanya.”

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu memperberat dirimu, nanti Allah memperberat atas kamu. Suatu kaum telah memberati diri mereka sendiri sehingga Allah memperberat atas mereka. Lihatlah sisa-sisa hal itu seperti dalam cara hidup para pendeta kaum nasrani. “

Rasulullah sendiri dalam praktek sehari-hari cenderung mempermudah umatnya. Beliau selalu meringankan shalat apabila beliau menjadi imam dalam shalat berjamaah.

Tanda-Tanda Ekstremitas dalam Beragama

Menurut Qardhawi, sikap ekstrem dalam beragama memiliki tanda-tanda:

  • Fanatik pada satu pendapat dan tidak mengakui pendapat lain. Inilah tanda yang paling mencolok dari sikap ekstrem.
  • Mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah.
  • Memperberat yang tidak pada tempatnya. Misalnya dengan memperkarakan sesuatu yang “berat” kepada orang yang baru masuk Islam.
  • Sikap kasar dan keras. Dalam Al-Qur’an hanya ada dua tempat untuk bersikap keras, yakni (1) di medan perang, “Perangilah orang-orang kafir sekelilingmu dan hendaklah mereka menemui kekerasanmu” (QS. 9:123) dan (2) dalam melaksanakan hukuman, “Janganlah kamu berbelas kasihan kepada keduanya (orang yang didera) sehingga mencegah kamu melaksanakan agama Allah…” (QS. 24 :2). Sementara dalam da’wah tidak ada tempat untuk sikap kasar dan keras.
  • Buruk sangka terhadap manusia. “Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah olehmu dari kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa” (QS. 49 :12)
  • Terjerumus kedalam jurang pengkafiran. Ini puncak ekstremitas karena menggugurkan hak kehormatan orang lain dan menghalalkan jiwa dan harta mereka.*