Ternyata, (Alm) Adi Sasono Yang Muluskan Pendirian Bank Muamalat

3.Curi-Start-ATM-Bank-Muamalat-dengan-Chip-Didalam-1Jakarta (ICMI Media) – Almarhum Adi Sasono, ternyata merupakan tokoh kunci yang memuluskan langkah berdirinya Bank Syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat Indonesia. Karena penjelasan Adi yang brilian, Menteri Sekretaris Negara kala itu, (alm) Moerdiono, puas dan menyetujui untuk meneruskan ide tersebut kepada (alm) Presiden Soeharto.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiuun. Kita kehilangan seorang putra bangsa yang perduli dengan affirmative action yang mengangkat pribumi. Peran almarhum pada proses pendirian Bank Muamalat sangat kunci,” ujar Ketua ICMI Bidang Perbankan Syariah, Zainulbahar Noor, seperti dikatakannya pada Senin (15/8).

Menurut Zainul, hal tersebut bermula ketika MUI menghadap ke Mensesneg (alm) Murdiono untuk meminta audiensi resmi MUI ke (alm) Presiden Suharto. Namun, nyatanya tak seorangpun bisa berhasil menjawab pertanyàan kritis Mensesneg: mengapa hrs mendirikan bank Islam tanpa bunga, apa manfaatnya dalam keadaan saat ini bank-bank umum telah cukup banyak, kata Zainul. Padahal, saat itu hadir juga ulama besar seperti dari MUI, alm KH Hasan Basri, KH Ali Yafie, (alm) Dr M  Amin Aziz serta beberapa Pengurus lainnya.

“Saat itu, (Alm) Prof M Amin Aziz meminta alm Pak Adi Sasono untuk membantu delegasi MUI pada audiensi berikutnya. Benar saja, (Alm) Pak Adisasono memberikan argumentasi sedemikian luar biasa, sehingga (alm) Mensesneg mengatakan bahwa jawaban seperti itulah yang ingin didapatkannya,” ujar Zainul Bahar.

Karenanya, sejak saat itulah proses pendirian Bank Muamalat memasuki fase baru terutama atas peyakinan kepada (alm) Presiden Suharto yang sejak awal telah dilakukan oleh Pak Bj Habibie.

“Semoga amal baik (alm) Adi Sasono diterima Allah SWT dan dibalas-NYA berlipat ganda ditmptkanNYA di surga jannatunnaim. Dan semoga kelugarga yang ditinggalkan diberi Allah SWT ketabahan.  Alfatihah….,” ujar Zainul.

Sementara mantan Direktur Bank Muamalat Suhaji Lestiadi mengatakan, peranan utama beliau lainnya ketika terjadi krisis moneter tahun 1998, maka bank-bank di Indonesia terkena dampak krisis. Saat itu banyak bank yang ditutup. Kalau pun tidak ditutup, maka bank tersebut memerlukan tambahan modal.

Ia menyebutkan, BMI termasuk bank yang memerlukan tambahan modal. Karena pada saat itu, sumber permodalan dalam negeri sedang sulit, maka manajemen BMI bermaksud minta bantuan Islamic Dev Bank di Jeddah untuk  mengambil saham portepel BMI senilai USD 10 Juta.

“Saat itu alm Pak Adi sedang menjabat sebagai Menkop, kebetulan beliau akan berkunjung ke Jeddah. Maka kami titipkan surat BMI kepada beliau untuk dapat dibicarakan dengan  Presiden IDB,” kata Suhaji Lestiadi

Beliau bercerita, pada awalnya pihak IDB masih berputar-putar, masih banyak alasan dan pertimbangan, belum ada kepastian akan masuk. Akhirnya pak Adi dgn tegas berkata (Indonesia itu pemegang saham di IDB, dan Indonesia belum ada dibantu IDB, sekarang saya sebagai Mentri RI bertanya, IDB mau bantu BMI apa tidak? Akhirnya IDB pada pertemuan tersebut mengatakan akan bantu beli saham BMI USD 5Jt. Itulah sekelumit sejarah penting masuk nya IDB sbg pemegang saham BMI.

“Dengan masuk nya IDB sebagai pemegang saham, maka rating BMI meningkat di mata investor, karena IDB memiliki investment grade AAA, lebih bagus dari investment grade negara Indonesia yang hanya BBB,” ujarnya.

Dari upaya pak Adi ini, kemudian dilanjutkan oleh pak Hamzah Haz, sewaktu beliau sebagai Wapres pergi ke Jeddah juga singgah ke IDB, menagih janji realisasi komitment pembelian saham BMI, yg dirintis pak Adi tersebut.

“Terimakasih Bpk Adi Sasono, semoga Allah SWT menerima amal ibadah Bpk dan memberi balasan surga jannatun na’im. Amin YRA….,” kata Suhaji Lestiadi.*** (L/CH)

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *