Tengah Dikaji, Calhaj 80 Tahun Tanpa Masuk Daftar Tunggu

MAKKAH–Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan sedang mengkaji kebijakan yang memprioritaskan pendaftar haji berusia 80           tahun ke atas bisa langsung berangkat tanpa perlu masuk daftar tunggu.

“Usia berapa lagi mereka akan berangkat kalau sudah 80 tahun masih harus menunggu 10 tahun,” kata Menag dalam konferensi pers, di Mekkah, Selasa.

Menag menyampaikan hal itu saat melakukan evaluasi tahap awal pelaksanaan haji yang baru saja usai tahap ritual pokok berupa wukuf di Arafah, mabit dan melontar jumrah di Mina dan tawaf serta sa’i di Mesjidil Haram.

Menurutnya, kajian matang perlu dilakukan mengenai batasan umur yang akan diprioritaskan, yaitu di atas 80 tahun atau di atas 85 tahun yang tidak mengganggu daftar tunggu yang sudah tersusun.

Sementara mengenai rencana pembuatan kloter khusus manula (manusia lanjut usia) dengan penambahan jumlah petugas bagi kelompok ini, Menag mengatakan, ide itu sedang dipertimbangkan karena bisa saja kelompok manula tersebut dibentuk saat turun dari pesawat di Jeddah.

“Kalau dari daerah asal mereka datang sulit membentuk kelompok tertentu jemaah berusia lanjut karena mereka berasal dari berbagai pelosok di Tanah Air,” kata Menag.

Sedangkan berkaitan dengan banyaknya tindak kejahatan terhadap jemaah haji Indonesia di Tanah Suci berupa pencopetan, penipuan, perampasan, pencurian, Menag mengatakan akan memperbanyak petugas keamanan agar lebih menjamin keamanan terutama di pondokan-pondokan.

“Namun upaya pencegahan harus ditingkatkan dengan memberikan informasi mengenai tindak kejahatan yang mengancam jamaah, karena di pondokan pengamanan bisa dilakukan, namun jika di mesjid sulit dikontrol,” tambahnya.

Suryadharma, yang didampingi Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Anggito Abimayu dan Sekjen Kemenag Bachrul Hayat, juga mengatakan tahun depan simbol indentitas Indonesia pada pakaian jemaah haji Indonesia maupun petugas akan ditambah berupa bendera di pakaian atau tulisan Indonesia.

Penambahan identitas itu akan membantu petugas mengenali jemaah Indonesia serta memberi rasa kebanggaan terhadap nasionalisme berbangsa.

Ia juga akan mengusulkan kepada pemerintah Arab Saudi agar di Mekkah dipasang tanda-tanda lalulintas berbahasa Indonesia seperti yang telah ada di Medinah karena jemaah Indonesia paling besar jumlahnya dan sering mengalami kesulitan karena rambu-rambu lalu lintas dan simbol-simbol petunjuk lainnya bertulisan Arab dan Inggris yang tidak dimengerti jemaah Indonesia.

taufik rachman/antara

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *