SIKAPI PERGANTIAN TAHUN SECARA PROPORSIONAL

Oleh: Dr. Moedji Raharto

 

Sebentar lagi penduduk dunia akan memperingati pergantian tahun masehi dari tahun 2014 ke 2015. Awal tahun 2015 ditandai dengan hari libur nasional pada penanggalan di masing – masing negara, hari libur dan hari beristirahat tahunan dari kerutinan pekerjaan bagi masyarakat luas. Berbagai ekspresi diri dan kelompok masyarakat dunia menyambut tahun baru dengan beragam cara.

Pada abad 21 ini perkembangan sains dan teknologi telah menghubungkan berbagai anggota masyarakat dengan sangat intensif melalui internet dan berbagai alat komunikasi. Kemudahan ini akan melahirkan berbagai rencana dan aktivitas untuk menyongsong malam tahun baru. Malam pergantian tahun dalam kalendar masehi, diidentikkan dengan acara pesta pora, dan perayaan membakar kembang api akhir tahun. Masyarakat dunia seolah mudah terbius, di Indonesia banyak manusia dalam suasana histeris, berteriak, berjoget, bergoyang mengikuti irama musik, berdesakan di tengah keramaian menanti malam pergantian tahun.  Banyak pemerintah daerah merencanakan penyenggaraan berbagai panggung hiburan pada malam pergantian tahun, polisi dikerahkan untuk melakukan pengamanan ekstra akibat kemacetan-kemacetan dan banyaknya panggung hiburan malam pada pergantian tahun baru.

Budaya hiruk pikuk, hiteris tak sadarkan diri pada pergantian tahun merupakan budaya yang lebih cenderung terlalu berlebihan dalam mengekplorasi kenikmatan duniawi semata. Manusia cenderung melupakan hakekat pergantian tahun sebagai bagian perjalanan hidup duniawi, perlu ada evaluasi setiap saat termasuk pada waktu pergantian tahun. Sebagai bangsa yang beragama perlu melakukan perenungan spiritual, berdzikir, berdoa dan berharap akan kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru,  berkomunikasi dengan Yang Maha Pencipta, untuk memperoleh pencerahan lahir batin, evaluasi perjalan hidup pada tahun yang berlalu.  Kegiatan semacam itu sebaiknya menjadi alternatif aktivitas bangsa Indonesia pada momen pergantian tahun masehi, sebagai bagian aktivitas pada hari libur dipenghujung tahun. Sebaiknya pergantian tahun tidak dimaknai berpesta, berteriak histeris, bernyanyi secara berlebihan, saatnya mengadakan perenungan spiritual yang lebih sering terabaikan, perenungan spiritual dimaksudkan agar kehidupan kita pada tahun baru lebih baik dan lebih bermakna.

Rotasi planet Bumi terus berlangsung, suasana siang malam berganti setiap hari hingga malam pergantian tahun tiba, gerakan Bulan mengorbit Bumi juga terus berlangsung, wajah Bulan di langit terus berganti,  wajah Bulan pada malam pergantian tahun dari  sabit menuju purnama, 5 hari jelang bulan purnama, mirip dengan wajah Bulan pergantian malam tahun baru 19 tahun yang silam.

Gerak Bumi mengorbit Matahari tak pernah berhenti, pemandangan rasi bintang di langit malam berganti perlahan karena perjalanan orbit Bumi. Fenomena fenomena langit tersebut menemani perjalanan hidup manusia di dunia fana. Fenomena langit yang berulang itu  menjadi tanda dalam meniti dalam ruang – waktu alam semesta, berapa lama perjalanan hidup yang telah kita tempuh? Pengamatan fenomena langit yang berulang itu berubah menjadi pemahaman kuantisasi, menjadi kalendar digital, sebuah sistem pencatat waktu dalam jangka panjang. Fenomena langit tak ubahnya sebuah jam alam, tak perlu kalibrasi, tak perlu  tambahan energi dan tak perlu perawatan, berlangsung terus berapa kali putaran rotasi Bumi, berapa kali siklus sinodis Bulan, berapa kali siklus tropis Bumi telah berlalu?

Waktu terus melaju ke depan, sosok waktu tak dapat dilihat, tak dapat diraba, tak dapat dibuang, tak dapat dipercepat atau diperlambat, tak dapat didengar.  Perjalanan manusia melihat peristiwa kemarin atau masa silam, hari ini dan menyongsong hari esok.  Bahkan kehancuran Matahari, kehancuran planet Bumi tidak menghapus waktu, kerusakan jam tangan tidak menghambat perjalan waktu yang terus ke depan. Kematian manusia juga tidak menghentikan perjalanan waktu sedikitpun. Waktu adalah sebuah kontinum yang tak terdefenisikan, tetap menjadi sebuah misteri dalam kehidupan di dunia fana. Rotasi Bumi menjadi indikator sebagai pergantian hari, kini berganti dengan jam matahari dan revolusi Bumi merupakan indikator tahunan berubah menjadi penanggalan. Wajah digital angka – angka  sebuah kalendar yang tergantung di dinding rumah, di jam tangan, di komputer dan berbagai peralatan elektronik telah mengubah ritme kehidupan manusia, hari dan jam kerja, hari dan jam belajar dan hari  dan jam istirahat atau hari libur.

Diantara hari – hari libur nasional dalam kalendar Indonesia adalah hari libur tahun baru dari beberapa sistem kalendar yang dipergunakan masyarakat Indonesia. Misalnya pada tahun 2015 terdapat lima  tahun  baru dari 5 sistem kalendar: Pertama: pada hari Kamis , tanggal 1 Januari 2015 awal tahun bagi sistem kalendar Matahari Gregorian, Kedua: hari Kamis, tanggal 19 Februari 2015 merupakan hari libur Tahun Baru Imlek 2566 Kongzili, awal tahun sistem kalendar luni solar Cina 4713; Ketiga: hari Sabtu, 21 Maret 2015 merupakan Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1937S, awal tahun sistem kalendar luni solar – Saka 1937S; Keempat: hari Selasa, 2 Juni 2015, Hari raya Waisak  2559, awal tahun luni solar – Waisak 2559; Kelima: hari Rabu, 14 Oktober  2015, tahun Baru Hijriah 1437 H, awal tahun qamariah – Hijriah 1437 H.  Banyaknya ragam tahun baru dari berbagai sistem kalendar di Indonesia mewarnai hari libur nasional di Indonesia. Banyaknya hari libur tersebut menunjukkan ke bhinekaan masyarakat Indonesia. Penggunaan aneka ragaman sistem kalendar dalam masyarakat Indonesia diakomodasi oleh negara kesatuan republik Indonesia. Ragam kalendar tersebut memanfaatkan ritme fenomena sistem Bumi, Bulan dan Matahari.  Rotasi planet Bumi, siklus fasa Bulan dan siklus tahun tropis Matahari (posisi Matahari berada di arah titik Aries,duakali berurutan)  merupakan fenomena yang paling utama dipergunakan.

Secara umum pergantian tahun sistem kalendar matahari yang universal difahami bahwa akhir tahun kalendar merupakan akhir perjalanan planet Bumi mencapai satu siklus peredarannya mengelilingi Matahari. Sebenarnya tidak eksak seperti yang difikirkan masyarakat secara umum, karena setahun tropis rata – rata 365.2422 hari, sedangkan calendar hanya mempunyai setahun 365 hari atau 366 hari. Kalendar matahari masehi merupakan kelanjutan kalendar matahari  yang digagas Julius Caesar (46 SM) menggantikan kalendar luni-solar yang beragam dalam menetapkan bulan sisipan. Kalendar masehi Julius Caesar ini masih menyisakan masalah yaitu berkaitan dengan awal tahun masehi dengan tahun kelahiran nabi Isa as,  beberapa kajian menunjukkan bahwa tahun 1 masehi bukan tahun kelahiran nabi Isa (tahun kelahiran diperkirakan Nabi Isa 6 SM, sedang tanggal kelahirannya tidak pasti ada yang mempergunakan tanggal 25 Desember, 1 Januari, 1 Maret dan 25 Maret).  Selain itu pengaruh  presesi sumbu Bumi tidak diperhitungkan sehingga dalam jangka panjang  terdapat  pergeseran titik equinok yang diharapkan selalu berada di tanggal 21 Maret dan 23 September  pergeseran ini mengakibatkan matahari 10 hari lebih cepat mencapai vernal ekuinok.

Fenomena matahari di ekuinok ditandai dengan panjang siang sama dengan panjang malam dimana kita berada. Fenomena ini dipergunakan sebagai acuan dalam penetapan hari Paskah yang menggunakan cara luni-solar dan acuan tanggal matahari  di ekuinok. Reformasi kalendar masehi Julian oleh Paus Gregorius XIII menghapus 10 tanggal pada bulan Oktober 1582 (tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 ditiadakan, setelah hari Kamis tanggal 4 Oktober keesokkan harinya  hari Jum’at 15 Oktober 1582). Fakta tersebut tidak mengubah perayaan Natal pada setiap tanggal 25 Desember dan sebagian ada yang merayakan pada bulan Januari. Selain itu juga menambahkan aturan tentang tahun kabisat (setahun terdiri dari 366 hari), semula tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4, pada reformasi Paus Gregorius XIII (1502 – 1585) tersebut  tahun kabisat yang habis dibagi 100 tapi tidak habis dibagi 400 menjadi tahun basit (setahun terdiri dari 365 hari). Dengan penambahan aturan tersebut,  3 tahun kabisat akan berkurang setiap 400 tahun dan semula setahun rata – rata dalam kalendar Julian  365.25 hari menjadi 365. 2425 hari dalam kalendar Gregorian.

Walaupun kalendar masehi kurang sempurna dan banyak kritik terhadap keuniforman kalendar, aturan kalendar matahari diterima oleh masyarakat luas sebagai acuan bertransaksi, penjadwalan perjalan pesawat terbang, kereta api, atm perbank-an. Kemapanan  kalendar tersebut  juga didukung oleh penetapan sistem hari dan sistem jam matahari dan zona waktu pada abad 19. Dukungan pemanfaatannya dalam teknologi dan jadwal kerja maupun transaksi antar negara menjadikan sistem waktu kalendar masehi ini terasa mapan, hampir semua manusia merasakan manfaatnya karena dipergunakan dalam keseharian, termasuk jadwal kerja negara.

Tak terhindarkan lagi bila penduduk dunia yang telah mencapai sekitar 7 milyar pada akhir tahun 2014 ini ikut hanyut dalam luapan perayaan pergantian tahun. Kemacetan dan keramaian di tempat rekreasi, tempat hiburan karena rencana berlibur dan berpergian yang serempak. Berbagai kepentingan dan peluang dalam perayaan itu, berbagai keuntungan duniawi dari dunia pariwisata, juga akan ada yang memperoleh keuntungan dari berbagai atraksi gegap gempita kembang api ataupun panggung atraksi penyanyi dan artis. Walaupun semula dimaksudkan untuk membangun sistem kalendar yang baku dan pasti agar mudah dalam menetapkan hari – hari keagamaan, kini kalendar matahari ditata dengan lebih universal sehingga bisa dipergunakan sebagai acuan berbagai sistem luni-solar. Kalendar qamariah murni tidak terpengaruh oleh pada perubahan – perubahan dalam sistem kalendar matahari maupun luni solar.

Dalam kalendar matahari pergantian tahun bisa setiap 365 atau 366 hari, dalam kalendar luni-solar Cina atau Imlek, Saka-Hari raya Nyepi, Hari Raya – Waisak bisa setiap 354, 355, 383, 384 atau 385 hari sedang 1 Muharram bisa dijumpai setiap 354 atau 355 hari. Misalnya Imlek 2565 bertepatan dengan 31 Januari 2014 dan  Imlek 2566 bertepatan dengan 19 Februari 2015, jadi pada tahun Imlek 2565 terdiri 384 hari.  Saka 1936 bertepatan dengan 31 Maret 2014 dan  Saka 1937 bertepatan dengan 21 Maret  2015, jadi pada tahun Saka 1936 terdiri 355 hari.  Waisak 2558 bertepatan dengan 15 Mei 2014 dan  Waisak 2559 bertepatan dengan 2 Juni  2015, jadi pada tahun Waisak 2558 terdiri 383 hari.  1 Muharram 1436 H bertepatan dengan 25 Oktober 2014 dan  1 Muharram 1437 H bertepatan dengan 14 Oktober   2015, jadi pada tahun 1436 H terdiri 354 hari.

Jadi sangat  dimungkinkan peringatan tahun baru Hijriah berlangsung dua kali dalam satu tahun masehi, karena setahun Hijriah 10 – 12 hari lebih pendek dibanding dengan 1 tahun masehi.  Seperti tahun 2008 1 Muharram 1429 H jatuh pada tanggal 10 Januari 2008 dan 1 Muharram 1430 H jatuh pada tanggal 29 Desember  2008, sekitar 33 tahun lagi 1 Muharram 1436 H dan 1 Muharram 1437 H akan berada dalam tahun 2041. Sedang awal kalendar luni-solar sudah ditata sedemikian rupa (tidak bisa di bulan Januari dan Desember)  sehingga tidak memungkinkan ada dua tahun baru dalam satu tahun masehi, walaupun setahun kadang – kadang bisa terdiri 354 atau 355 hari.

Berbagai kalendar dipergunakan masyarakat di Indonesia dan tiap kalendar mempunyai aturan penetapan awal tahun, juga terdapat tujuan dan cara penyambutannya. Sebagai bangsa yang majemuk sikap saling menghormati dan tenggang rasa dalam perayaan pergantian tahun perlu dikembangkan.

Al Qur’an surat 103 mengingatkan akan kerugian kehidupan manusia di alam fana dalam perspektif waktu, kecuali bagi yang mengisi/menjalani kehidupan dengan beriman dan beramal shaleh, saling nasehat menasehati dalam kebaikan.

[Surah ke-103 : 3 ayat Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 1. Demi masa, 2. sungguh, manusia berada dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.]

Bandung, 29 Desember 2014

Dr. Moedji Raharto

Anggota Kelompok Keahlian Astronom FMIPA – ITB

Dewan Pakar ICMI Orwil Jabar

 

 

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *