Sensasi Tarawih di Victoria Park Hong Kong

tarawih hongkongSUASANA bulan Ramadan di Hong Kong bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Perbedaan mencolok antara lain tidak ada yang “ronda” membangunkan warga buat sahur (kecuali alarm atau telepon teman), tidak ada alarm tanda imsak dan saat berbuka dari masjid, radio, atau televisi.

Warga Muslim asal Indonesia di Hong Kong menjadikan Mushola Al-Falah Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), di Leighton Road, Causeway Bay, sebagai tempat favorit untuk shalat tarawih. Mushola di lantai 4 Gedung KJRI berkapasitas sekitar 250 jamaah itu, selalu dipenuhi jamaah yang mayoritas TKI Hong Kong.

Selama Ramadhan, Mushola Al-Falah KJRI yang menjadi tempat shalat Jumat bagi warga Indonesia ini, diisi dengan berbagai aktivitas yang khidmat dengan aktivitas ibadah yang tak jauh berbeda dengan di tanah air.

Shalat tarawih biasa dimulai sekitar pukul 08.30 dengan shalat Isya, Tarawih 8 rakaat, witir 3 rakaat, diakhiri dengan ceramah tarawih. Ya, benar, ceramah tarawih diakhirkan. Alasannya, banyak TKI yang hanya diizinkan shalat tarawih oleh majikannya dan tidak pulang terlalu malam. Acara tarawihan baru bubar sekitar jam 10.00 malam.

Panitia Ramadhan KJRI biasa mengundang sejumlah ustadz dari tanah air untuk mengisi ceramah dan pengajian di Mushalla Al-Falah ataupun di pengajian-pengajian yang diadakan TKI Hong Kong pada siang hari.Program Ramadhan Mushola Al-Falah antara lain Tebar Ustadz, Pondok Ramadhan Anak tiap hari Sabtu (bagi anak-anak pejabat dan staf KJRI dan WNI lain di Hong Kong), termasuk mengorganisasikan pelaksanaan shalat Idul Fitri yang biasa dilakukan di Victoria Park. Tiap Idul Fitri, Victoria menjadi “lautan mukena”. Ribuan TKI Salah Id di sana, mayoritas perempuan (TKW), dan biasanya hanya satu-dua baris kaum pria.

Selain Victoria Park, tempat shalat Id adalah lima masjid yang ada di Hong Kong plus di sekolah-sekolah Islam yang bertebaran di negeri beton tersebut.

Puasa di Hong Kong terasa lebih lama sejam dibandingkan di Indonesia. Pasalnya, waktu magrib atau waktu buka  di Hong Kong sekitar jam 7 malam. Waktu Shalat Shubuh  sekitar jam 04.45. Puasa di Hong Kong jatuh pada musim panas dengan cuaca yang begitu panas menyengat plus “pemandangan di luar” berupa kaum hawa Hong Kong (ada juga wanita Indonesia yang “ikut-ikutan” berbusana ala wanita Hong Kong) yang berpakaian superseksi.

SALAH satu hal yang mengagumkan dari warga Hong Kong adalah toleransi yang sangat tinggi. Pemerintah dan warga Hong Kong sama sekali tidak memberikan batasan apalagi pelarangan terhadap aktivitas ibadah Ramadhan warganya ataupun TKI. Penulis sering diundang ceramah plus memimpin shalat tarawih oleh organisasi TKI di ruang terbuka, seperti di taman dan di bawah jembatan! Ya, di bawah jembatan, di tengah hiruk-pikuk lalu-lintas malam Hong Kong. Jangan bayangkan bawah jembatan atau taman di Hong Kong seperti jembatan dan taman di Bandung. Di sana, kolong jembatan sangat bersih, bebas PKL, dan bebas gepeng. Penulis beberapa kali buka bersama dan tarawih di bawah jembatan di kawasan Tok Kwa Wan, Kowloon Island.

Selama buka buasa, pengajian, dan tarawih, tak ada gangguan apa pun dari warga yang berlalu-lalang. Kami pun menjadi pemandangan unik bagi para pengendara dan penumpang mobil-mobil yang lalu-lalang di sekitar kami shalat dan berbuka puasa. Sekali lagi, tanpa gangguan!

Penulis juga sering buka bersama dan shalat tarawih berjamaah dengan para TKI di Victoria Park, alun-alunnya Hong Kong. Jika hari Minggu, Victoria Park disebut “Kampung Jawa” karena setiap sudut taman terbuka nan bersih dan bebas PKL dan gepeng itu dipenuhi TKI yang mayoritas dari Jawa. Menurut salah seorang konsuler KJRI Hong Kong, mayoritas TKI Hong Kong dari Jawa Timur (50%), Jawa Tengah (25%), dan sisanya dari Jawa Barat, Sumatra, dan pulau lain. Mayoritas TKI libur hari Minggu sejak pagi hingga sore atau malam.

Aktivitas para TKI yang sedang menikmati hari liburnya itu sangat beragam, ada yang “menyendiri”, sekadar duduk-duduk dan ngobrol dengan dua-tiga kawannya, banyak juga yang beraktivitas bersama kelompoknya. Kelompok-kelompok TKI yang jumlahnya mencapai ratusan  juga beragam, mulai dari pengajian (majelis ta’lim), kelompok “free dancer” dengan pakaian yang “alakadarnya” (seksi), ada kelompok “tomboy”, bahkan ada klub lesbian!

Uniknya, semua kelompok itu beraktivitas dalam taman yang sama, Victoria, atau di tempat lainnya dan tidak saling ganggu. Semua kelompok menerapkan sikap toleransi tinggi, setinggi toleransi warga dan pemerintah Hong Kong terhadap eksistensi para perantau dengan beragam aktivitasnya itu.

Di Victoria Park itu pula berkesempatan berdiskusi dengan Kelompok Teater Angin, Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong, dan banyak lagi. Usai diskusi, buka bersama, kami pun shalat tarawih di “Pendopo” Victoria Park. Sensasi pun dimulai. Kami berkumpul di Pendopo Victoria Park, berdampingan dengan warga HK yang lagi “hang out” main Mahjong. Kami merasakan “sensasi shalat Maghrib” berjamaah tepat di samping warga Hong Kong. Mereka “cuek”, toleransi yang begitu tinggi.

Sensasi berlanjut saat kami, saya dan beberapa TKI,  bersepakat shalat Isya dan tarawih di sana. Kami memilih di taman, di bawah pepohonan rindang, agar anginnya kenceng karena udara yang panasnya minta ampun! Saat kami shalat, warga Hong Kong lalu-lalang di samping kami. Yang main Mahjong pun terus asyik dan “mengabaikan” kami. Indahnya toleransi warga Hong Kong.

“Lakum dinukum waliya din…” Untukmu agamamu, untukku agamaku, berlaku di Hong Kong. Wasalam. (ASM. Romli, praktisi media, Kepala Divisi Pengembangan Media & Komunikasi ICMI Jabar,  beberapa kali berkunjung ke Hong Kong. Tulisan ini dimuat di Rubrik “Cahaya Ramadan” HU Pikiran Rakyat edisi Senin 22 Juli 2013).*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *