Riba : Haram

Bila riba merajalela pada suata bangsa, maka mereka akan ditimpa tahun paceklik (krisis ekonomi). Dan bila suap-menyuap merajalela, maka mereka suatu saat akan ditimpa rasa ketakutan. (H.R. Ahmad).

Munculnya ekonomi Islam telah membuka mata dunia bahwa praktik ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat saat ini ternyata telah begitu menyimpang yang pada akhirnya menyengsarakan manusia itu sendiri seperti krisis demi krisis yang melanda dunia. Ekonomi Islam yang mengusung sebuah tatanan ekonomi berbasis tauhid dengan melarang berbagai praktik ekonomi yang bisa menciptakan ketidak adilan dan kezaliman di tengah masyarakat. Praktik-praktik tersebut adalah maysir (perjudian), aniaya, gaharar (ketidakjelasan/penipuan), riba (bunga), ihtikar/iktinaz (menimbun barang atau mata uang), dan bathil yang -biasanya untuk memudahkan ingatan disingkat menjadi MAGHRIB.

Praktik-praktik ekonomi terlarang saat ini secara kasat mata dapat dengan mudah ditemui dalam masyarakat dunia. Ada yang melakukannya karena faktor kesengajaan dan ada pula karena ketidaktahuannya. Ada yang melakukannya dengan teknik sederhana dan ada pula yang melakukannya dengan teknik-teknik canggih seperti merekayasa hukum, atau peraturan yang ada sehingga ia berhasil meraup keuntungan/kekayaan secara mudah dan namun legal secara undang-undang. Contohnya seperti merekayasa peraturan sehingga ia bisa mendapatkan hak atas sejumlah tanah, hutan, lautan, udara, hasil tambang ataupun asset tertentu. Bisa pula dengan adanya suap terhadap aparat atau dengan menggelapkan pajak dan kekayaan negara serta tindakan-tindakan lainnya.

Salah satu penyimpangan praktik ekonomi yang dilakukan masyarakat saat ini adalah praktik riba. Sederhanaya, riba adalah praktik membungakan uang, atau tambahan atas uang tanpa adanya underlying asset yang menyertainya.

Salah satu penyimpangan praktik ekonomi yang dilakukan masyarakat saat ini adalah praktik riba. Sederhanaya, riba adalah praktik membungakan uang, atau tambahan atas uang tanpa adanya underlying asset yang menyertainya.

Kenapa dikatakan penyimpangan?, tidak lain dikarenakan riba dilarang oleh hampir semua agama seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, namun biang keroknya tentu saja Yahudi. Riba dianggap sebagai kezaliman kepada manusia lain. Dalam Islam, memakan riba adalah termasuk dosa besar bahkan dosa riba yang paling ringanpun diibaratkan seperti dosa seseorang yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Dari Ibnu Masud, bahwa Nabi Saw bersabda: Riba itu ada 73 tingkatan, yang paling ringan daripadanya adalah seumpama seseorang menzinai ibunya sendiri. (Al-Hakim). Nauzubillah, bayangkan bagaimana pula dengan dosa riba yang besar.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *