Refleksi Usia Perak ICMI

w750_h400px__1449903153Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) kini telah memasuki usia ke-25 tahun. Masa ini menjadi saat yang tepat untuk menilai dan merumuskan kembali sejauh mana serta akan ke mana pergerakan para cendekiawan Muslim mendatang. Presidium ICMI Marwah Daud mengatakan, kelahiran ICMI digagas oleh para mahasiswa dari berbagai kampus dengan kontribusi dari para tokoh nasional.

Pekan lalu, beberapa tokoh ICMI menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga salah satu pendiri ICMI. Ia menilai, ICMI telah membantu mengenalkan Islam secara lebih luas di Indonesia.

“Yang tadinya boleh dikata berislamnya masih belum terlalu mewarnai dari berbagai hal, bahkan waktu itu di pemerintahan, sipil, orang khawatir memperlihatkan identitas keislaman. Sekarang di kampus, kantor, pemerintahan, wajah keislaman sudah diperlihatkan dengan terbuka,” kata Marwah, Rabu (9/12).

Di tengah arus demokrasi dan berkembangnya berbagai kelompok, paham, dan ideologi dalam masyarakat Islam, tantangan ICMI dirasa semakin berat. Namun, seperti telah dirumuskan sejak awal, ICMI melihat Pancasila sebagai ideologi yang telah disepakati.

Di dalam Pancasila terdapat prinsip-prinsip keislaman, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan sebagainya. Kelima sila tersebut menjadi pengikat berbagai elemen masyarakat menjadi satu bangsa, yaitu Indonesia. “Itu sangat Islami,” kata Marwah.

Keseragaman cara bertindak, berbuat, dan berstrategi merupakan hal yang hampir muskil diwujudkan. Oleh karena itu, tugas para cendekiawan Muslim di Indonesia adalah menyatukan berbagai ragam yang ada dalam tubuh negeri ini. Sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, Marwah berharap Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain.

Contoh yang dimaksud ialah Islam dapat menjadi cara hidup yang membuat bangsa dan rakyat ini maju. Banyak negara mampu berkembang dengan pesat dan menjadi negara maju di dunia. Namun, kemajuan itu tak seyogianya membuat mereka lupa akan peran Tuhan.

Justru, kata Marwah, semakin maju suatu negara, seharusnya rakyatnya semakin bertakwa. Tidak adanya ketakwaan dalam negara demokrasi, juga menimbulkan berbagai potensi negatif. Kekuasaan akan dimanfaatkan oleh segelintir orang yang tidak peduli akan kemaslahatan rakyat. Inilah yang memicu jurang kesenjangan semakin tinggi.

Perbaikan akhlak, atau dalam istilah ICMI disebut hijrah moral, merupakan satu modal penting yang perlu disiapkan. Istilah ini tergambar dalam berbagai istilah, seperti revolusi mental, pendidikan karakter, dan sebagainya. Ini, kata Marwah, menjadi kunci kesiapan pembangunan. Sebab, banyak program pemerintah tak dapat berjalan tanpa adanya kesiapan di level bawah.

Marwah mengaku, di usia yang tak muda ini, ICMI masih memiliki berbagai PR untuk dirampungkan. Fenomena miris yang masih belum juga terselesaikan, misalnya, masih tingginya kesenjangan sosial di Indonesia.

Ia mengatakan, baru satu persen penduduk Indonesia yang menguasai 80 persen lahan produktif. Kepemilikan yang sangat minim ini masih dipegang oleh segelintir orang yang kian hari kian kaya. Sebaliknya, rakyat yang miskin semakin miskin. “Banyak sekali tantangan,” ujar Marwah.

Untuk dapat menghadapi berbagai tantangan yang ada, ICMI bergerak dalam berbagai level kepentingan. Selain menekankan pentingnya penguasaan teknologi dalam berbagai bidang, ICMI juga berupaya mewarnai proses dalam pengambilan kebijakan.

Level mikro juga menjadi perhatian tersendiri bagi ICMI. Organisasi ini membuat lembaga keuangan mikro, kelompok kreatif seperti Ikatan Saudagar Muslim Indonesia, menggagas dan memperjuangkan bank-bank syariah, media dan lain-lain.

Namun, ini tak lantas merampungkan tugas ICMI dalam berkontribusi pada negeri ini. Bagi Marwah, ICMI bukanlah ikatan atau kumpulan sarjana berdasarkan jurusan. Kepedulian menjadi fokus dalam pergerakan organisasai ini. Keberagaman latar belakang memang terlihat di berbagai tingkat, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten. Hal ini menjadi kekayaan dan keunikan tersendiri.

“Dari awal saya sudah menekankan. Banyak perbedaan, tapi temukan titik temu. Titik temu ini yang akan menjadi garis temu, bidang temu. Kesamaan pandangan itu tadi. Kita ingin negeri ini maju, makmur, tentu dengan ridha Allah. Banyak negara yang melesat maju, ketika ditanya banyak warganya tidak mengakui Tuhan. Kita tidak mau seperti itu,” ujar Marwah.

Ke depan, ICMI diharapkan dapat meneguhkan tujuan yang telah digagas oleh para pendiri. “Sejak awal ICMI ingin membantu membuat Indonesia terbangun dengan baik, jujur dan adil (jurdil), bermartabat, mandiri, sisi kemanusiaannya semakin berkualitas, dan imbang dari keislaman dan teknologi,” ujar Marwah.

Muktamar VI ICMI yang akan digelar pada Jumat (11/12) hingga Ahad (13/12) akan menggunakan sistem pemilihan pimpinan yang berbeda. Presidium ICMI Sugiharto menuturkan, ICMI akan menggunakan sistem musyawarah untuk mencapai mufakat guna memilih pucuk pimpinan organisasi cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia itu.

“Karena kita adalah organisasi cendekiawan Muslim, sehingga kita juga harus gunakan cara-cara Islam, yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat,” ujar Sugiharto, seperti dalam laman resmi ICMI.

Sistem ini, rencananya akan dijadikan sebagai kultur ICMI dalam suksesi kepemimpinan dan penyelesaian setiap masalah. Bahkan, ICMI tidak akan menggunakan pemungutan suara seperti yang pernah berlaku sebelumnya karena cara tersebut dianggap jauh dari tuntunan ajaran Islam.

“Adapun sistem presidium tetap kita gunakan, hanya masa kepemimpinannya tidak berganti setiap tahun seperti yang sebelumnya. Yang akan datang, rencananya satu orang presidium akan bertanggung jawab menjalankan program selama lima tahun dan didampingi oleh enam orang presidium lainnya,” ujar Sugiharto

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *