Ramadhan di Negeri Judi: Tarawih Bersaing dengan Casino

masjid macau2MACAU dikenal sebagai negeri judi. Negara kecil ini terletak pada 70 km sebelah barat daya Hong Kong dan 145 km dari Guangzhou China. Pemerintahan Portugal menyerahkan kedaulatan Macau kepada China tahun 1999. Penduduk Macau kebanyakan bertutur dalam bahasa Kantonis –sama dengan warga Hong Kong. Ada juga yang berbahasa Mandarin, Portugis, dan Inggris.

Suasana negara bekas jajahan Portugis yang kini jadi Special Administration Region (SAR) –semacam daerah otonomi— China yang lebih cocok disebut “kota” itu relatif sepi, terutama pada malam hari. Keramaian bisa ditemui di rumah-rumah judi atau casino yang bertebaran di hampir semua sudut negeri kecil ini.

Namun, siapa sangka, di tengah hiruk-pikuk perjudian itu, sering berlalu-lalang di sudut jalanan wanita-wanita Indonesia berjilbab. Siapa mereka? Tak lain adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) atau lebih dikenal dengan sebutan TKI atau TKW.

Ribuan TKI Indonesia kini bekerja di negeri judi itu. Karena mayoritas Muslim, mereka pun turut menciptakan suasana Islami dengan mengadakan berbagai pengajian dan kegiatan Islami lainnya, teruma di satu-satunya masjid di Macau, yakni Mosquita de Macau, di Ramal Dos Moros (Phone: (853) 28337273 Fax: (853) 337273).

Masjid itu menjadi markas (Head Office) Islamic Association. Dikenal pula sebagai “pusat komunitas Muslim” Macau (Muslim Community Centre).

Letak Mosquita de Macau di ujung kota, jauh dari pusat keramaian. Suasana sehari-harinya sepi. Gerbangnya bahkan sering digembok. Di balik gerbang itulah bangunan masjid seluas kira-kira 6,5 m x 12 m –lebih cocok disebut Mushola.

Masjid itu biasanya ramai hari Minggu. Sebagian besar jamaah masjid adalah pekerja asing, termasuk BMI/TKI. Minggu menjadi semacam “Hari Kemerdekaan” buruh migran. Mereka pun leluasa pergi ke mana saja. Pengajian untuk para pekerja Indonesia di Macau pun digelar di masjid ini.

Perantau Muslim Indonesia di Macau bisa berkunjung atau bergabung dengan Shelter MATIM (Majelis Taklim Indonesia Macau) di kawasan Rue de Silva. Jumlah perantau Indonesia di Macau sekitar 6.000 orang.

MATIM dan organisasi Islam TKI Macau lainnya berperan membina rohani Islam dan lifeskill para TKI di Macau dengan dukungan Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK).

Shelter MATIM memusatkan kegiatan hari Minggu, “the perantau day”, hari libur umumnya para BMI. Dalam jadwal Ahad Shelter MATIM tertera rincian kegiatan, seperti tadarus Al-Quran, Iqra, kurus menjahit, dan kursus komputer. Di shelter ini pun ada koperasi dan perpustakaan.

Diperkirakan jumlah Muslim “asli” Macau sekitar 400 orang lebih dari total penduduk Macau sekitar 1,2 juta jiwa. Kaum Muslim itu tergabung dalam organisasi “The Macau Islamic Society”.  Namun, jika digabungkan dengan TKI yang hampir semuanya wanita dan beragama Islam, jumlah Muslim di Macau diperkirakan lebih dari 5.000 orang.

Suasana Ramadhan di Macau tidak ada bedanya dengan suasana bulan-bulan lain atau hari-hari biasa. Leaflet atau poster berisi iklan wanita panggilan (PSK) masih seperti biasa berserakan di jalan-jalan tertentu di seantero Macau –lengkap dengan foto bugil dan nyaris bugil plus no telepon.

Namun, jika kita masuk ke kalangan TKI Macau, maka kegiatan Ramadhan mereka cukup padat, dipusatkan di masjid dan Shelter MATIM atau tempat lain yang disewa. Kegiatan Ramadhan mereka dilakukan pada malam hari, seperti buka bersama, tadarus, yasinan, dan tarawih. Intensitas pengajian dan pelatihan keterampilan biasanya ditambah siang hari pada hari libur.

Uniknya, di Shelter MATIM tarawih berjamaah plus pengajian biasa dilakukan jam 2 dinihari, langsung sahur, shalat subuh, dan pengajian atau ceramah oleh ustadz Indonesia yang didatangkan DDHK ke Macau. Tarawih dilakukan dinihari karena sebagian besar warga Shelter MATIM pulang kerja sekitar jam 11 malam, yaitu mereka yang “stay out” (tinggal di luar rumah majikan). (ASM. Romli, praktisi media, Ketua Divisi Pengembangan Media dan Komunikasi ICMI Jabar, pernah beberapa kali berkunjung ke Macau 2009, 2010, dan 2012. Tulisan ini dimuat di Rubrik “Cahaya Ramadan” HU Pikiran Rakyat edisi Senin 15 Juli 2013).*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *