Rakerda Icmi Orda Purwakarta

Calon Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018 harus memiliki karakter 3N. Yaitu, nyantri, nyakola dan nyunda. Demikian diungkapkan Ketua MPW Ikatan Cendikiawan Muslim se Indonesia (ICMI) Jabar, Prof Muhammad Najib, dalam acara Kajian Berdemokrasi dan Berpolitik pada Rakerda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Purwakarta di Gedung Janaka Pemda Purwakarta, Selasa (13/6).

Najib berharap kepemimpinan Jabar kedepan paling tidak sama dengan kepemimpinan saat ini itu nyantri, nyakola dan nyunda,”

Dijelaskan Najib, nyantri itu maksudnya, dia tokoh yang memiliki komitmen tentang nilai keagamaan, kemudian juga bisa memahami serta komitmen bagaimana menata kehidupan keagamaan. Nyakola, berpikir rasional logis dan objektif, lebih terbuka dengan siapa aja.  Sementara nyunda, lanjut Najib, dia memiliki komitmen tentang bagaimana nilai masyarakat Sunda.”Budaya Sunda harus tetap terpelihara dan terjaga, jangan sampai tereliminasi oleh kekuatan budaya yang lain,” pungkasnya.

Sementara itu Profesor Obi, panggilan akrabnya, memprediksi, kondisi Pilgub Jabar tidak akan jauh berbeda dengan yang terjadi di DKI Jakarta. Pasalnya, efek Pilgub di Jakarta hingga kini masih terasa.

“Isu yang sama di Jakarta akan dibawa ke Jabar. Pilgub DKI kemarin anggap saja sebagai latihan masyarakat Jabar, jangan terulang,” katanya saat menjadi keynote speaker Kajian Berdemokrasi dan Berpolitik pada Rakerda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Purwakarta di Gedung Janaka Pemda Purwakarta.

Dirinya mencontohkan, isu yang dibawa dari Jakarta ke Jawa Barat itu akan dimunculkan kembali seperti, rasisme, sukuisme, agama. “Hal tersebut akan menular dan harus diantisipasi meski kecil kemungkinan di luar agama Islam bisa jadi Gubernur Jawa Barat,” ujarnya.

Profesor Obi juga memberikan kiat-kiat memilih calon Gubernur Jabar suksesor Ahmad Heryawan. “Pilihlah yang memiliki tingkat kehirauan tinggi, punya visi untuk membangun Jabar secara holistik dan tidak sektarian. Kemudian, tidak bersifat materialistis atau uang adalah segalanya,” ujarnya.

Obi, sapaan akrab Obsatar sinaga, mencontohkan dunia pesantren yang mana seorang santri belum terlihat kehebatannya dalam memimpin, karena di situ masih ada sang Kyai.

“Satu contoh gini, menjelang sholat, semua santri menunggu Kyai, jika kyai belum datang, meskipun sampai lama mereka tetap akan menunggu, tidak ada yang berani gantiin posisi kyai Sebagai imam, tetapi jika memang kyai tidak ada, banyak kok yang ternyata mampu untuk menjadi seorang imam”, Jelasnya.

Sebagai pemateri, Obi juga menggambarkan sosok yang sukses dalam memimpin, diantaranya; pemimpin harus bisa membawa masa depan ke masa sekarang, memberikan cinta kasih kepada sesama dan pemimpin harus bisa menularkan kebaikan kepada orang lain khususnya kepada masyarakat dan bawahannya.

Sementara itu, terkait rakerda, Ketua ICMI Orda Purwakarta Dr H Agus Muharam M.Pd mengatakan, agenda rakerda di antaranya menyusun program kerja lima tahun dengan prioritas satu tahun ke depan. “Rakerda dihadiri 17 perwakilan organisasi satuan (orsat) ICMI se-Purwakarta, 9 divisi pengurus orda, ditambah dewan pakar,” ujarnya.
Melalui rakerda tersebut, kata Agus, ICMI memiliki program-program unggulan di antaranya pengembangan ekonomi umat. “Ada pula program di bidang kebudayaan dan peningkatan sumber daya manusia,” kata Agus.
Ada pun salah satu bentuk nyatanya nanti, kata Agus, misalnya di bidang perekonomian ICMI akan menggelar berbagai pelatihan bagi para pemuda masjid atau Ikatan Remaja Masjid (Irma). “Pemberdayaan sumber daya insani ini melibatkan siswa SMP/sederajat, SMA/sederajat, hingga mahasiswa akan dibina. Kami juga akan menggelar pelatihan informasi komunikasi atau pelatihan jurnalistik,” ujarnya.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *