Masa Depan Kalender Islam

Sosialisasi kalender Hijriah di masyarakat harus ditingkatkan.

Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia mengenal sistem kalender Masehi.

Bahkan, ketika diminta menyebutkan nama-nama bulan Masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.

Sebaliknya, ketika diminta pendapatnya mengenai kalender Islam atau Hijriah, kebanyakan dari mereka menggelengkan kepala tanda tak tahu. Sungguh memprihatinkan!

Minimnya popularitas kalender Hijriah disebabkan kalender Masehi diterbitkan lebih dahulu dan yang paling banyak diterapkan di dunia. Sistem ini mulai dirancang pada 525 M.

Seratus tahun lebih awal ketimbang pembentukan kalender Hijriah. Namun, dasar kalender Masehi telah ditetapkan pada 46 SM (Sebelum Masehi) oleh Kaisar Julius dengan penasihatnya, astronom Sosigense.

Banyak yang berpendapat, tahun 1 M dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih. Karena itu, kalender ini dinamakan Masihiyah. Namun, bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut.

Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk pada konotasi Kristen tersebut.

Sementara itu, penggunaan istilah Masehi secara internasional dalam bahasa Inggris menggunakan bahasa Latin, yaitu anno domini (AD) yang berarti ”tahun Tuhan kita” dan sebelum Masehi disebut sebagai before Christ (BC) yang bermakna ”sebelum Kristus”.

Dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan common era (CE) yang berarti ”era umum” dan before common era (BCE) yang bermakna ”sebelum era umum”.

Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tak ingin menggunakan nama tahun Kristen.

Kalender Masehi perlu waktu 19 abad menuju kemapanan, sementara kalender Hijriah baru 14 abad.

Sistem penanggalan Masehi mulai dikenal luas ketika negara-negara Eropa memulai aksinya menjelajahi dunia dan menjajah banyak negara.

Kalender Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Namun, pada abad ke-11 hingga ke-14, sistem ini tidak begitu luas digunakan.

Pada 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.

Indonesia juga merupakan salah satu negara yang menerapkannya. Hal ini pula yang membuat tidak banyak Muslim di Indonesia yang mengenal dan memahami kalender Hijriah, kecuali sebagai penentu awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Hal ini tentu patut disayangkan mengingatkan Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Kesepakatan kriteria
Syarat agar suatu kalender mencapai kemapanan adalah adanya otoritas tunggal yang menetapkannya.

Ada kriteria yang disepakati dan batasan wilayah penerapannya, baik nasional maupun global.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN dan Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, Thomas Djamaluddin, menyatakan dua dari syarat tersebut sudah dipenuhi oleh Indonesia untuk menuju penggunaan kalender Hijriah. Namun, hingga kini belum ada kriteria yang disepakati.

“Kalau kita berhasil mencapai kesepakatan kriteria hisab rukyat nasional, kita akan mempunyai kalender Hijriah yang memberikan kepastian,” ujarnya.

“Kepastian” adalah kunci menjadikan sistem kalender terpakai dalam urusan yang lebih luas, bukan hanya ibadah. Dokumen resmi kenegaraan dan transaksi bisnis pun dapat dilakukan dengan sistem kalender itu.

Kalender Hijriah akan setara dengan kalender Masehi dalam memberikan kepastian. Selain itu, sosialisasi kalender ini di masyarakat harus ditingkatkan. Namun untuk menerapkan kalender Hijriah secara global, masih butuh waktu lebih lama lagi.

Saat ini, sejumlah perusahaan IT besar dunia mulai menggunakan kalender Hijriah sebagai basis teknologi penanggalan. Misalnya, Microsoft yang menggunakan Algoritma Kuwait untuk mengonversi kalender Gregorian ke kalender Hijriah.

Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, tetapi dalam kenyataannya adalah salah satu variasi dari kalender Hijriah tabular.

Hal ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi masa depan penggunaaan kalender Hijriah secara lebih luas, apalagi seiring bertambahnya jumlah umat Islam di dunia.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *