Kilas Sejarah Penanggalan Hijriah

Umar bin Khattab secara konkret memprakarsai pembuatan penanggalan Hijriah.
Tak ada penanggalan pasti di tanah Arab sebelum Islam datang. Mereka tidak memiliki kalender khusus untuk digunakan bersama.

Mereka hanya mengenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah).
Peredaran bulan digunakan dan untuk menyinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Saat itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting pada tahun tersebut. Misalnya, tahun ketika Rasulullah lahir dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”.

Dinamai begitu karena pada waktu itu terjadi penyerbuan Ka’bah di Makkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, gubernur Yaman.

Anak-anak Ibrahim membuat hitungan tanggal dari peristiwa dilemparnya Ibrahim ke dalam api hingga dibangunnya Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismail.

Pada era kenabian Muhammad, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah hijrah, turun ayat 36-37 Surah at-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.”

“Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.”

Ayat inilah yang dijadikan dasar oleh Umar bin Khattab ketika memutuskan untuk membentuk penanggalan resmi setelah terjadi sejumlah masalah dalam kekhalifahan Islam.

Ketika itu, tahun 638 Masehi, sekitar enam tahun setelah Rasulullah wafat. Saat itu, wilayah kekuasaan Islam semakin besar dan mulai menghadapi persoalan administrasi.

Surat menyurat antargubernur atau penguasa daerah dengan pusat ternyata belum rapi karena tidak adanya acuan penanggalan.

Masing-masing daerah menandai urusan muamalah mereka dengan sistem kalender lokal yang seringkali berbeda antara satu tempat dan lainnya.

Keputusan untuk membuat sebuah kalender Islam juga dipicu oleh surat yang ditulis Abu Musa al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar.

Surat tersebut isinya mempertanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan.

Selain Abu Musa, seseorang juga meminta Umar untuk membuat penanggalan resmi. “Buatkan penanggalan!” ujarnya.

Umar bertanya, “Apa itu?” Orang itu menjawab, “Seperti yang dilakukan oleh masyarakat lain untuk mengetahui ini bulan apa dan tahun berapa,” jelasnya.

Umar kemudian memanggil para sahabat dan dewan penasihat, di antaranya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Mereka bermusyarah untuk menentukan satu sistem penanggalan yang akan diberlakukan secara menyeluruh di semua wilayah kekuasaan Islam. Perbincangan tersebut menghasilkan keputusan bahwa pemerintah Islam akan membuat kalender Islam yang kemudian dikenal dengan nama kalender Hijriah.

Konsistensi perhitungan
Bila kalender Masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, penanggalan Hijriah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari.

Perbedaan ini disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender Hijriah. Rata-rata, jumlah hari dalam kalender Hijriah antara 29-30 hari.

Sedangkan, kalender Masehi berjumlah 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun Masehi dan tahun Hijriah.

Dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sinodik bulan yang memiliki 12 bulan dalam setahun.

Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender Hijriah bergantung pada posisi Bulan, Bumi, dan Matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi; kemudian pada saat bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion).

Dari sini, terlihat bahwa usia bulan tidak tetap, tetapi berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi, dan Matahari).

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya bergantung pada penampakan hilal.

republikaonline

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *