Jimly Solidkan ICMI

169645b9-978f-4154-aad8-37b58520fda5MATARAM – Muktamar VI Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang berakhir Ahad (13/12) memilih Jimly Asshiddiqie sebagai ketua umum. Muktamar ini, juga mengakhiri sistem kepengurusan presidium yang telah berlaku selama dua periode menjadi ketua umum.

Jimly mengaku tidak dapat menolak permintaan tim formatur yang diisi dirinya bersama enam orang lainnya, yakni Ilham Akbar Habibie, Muhammad Nuh, Zulkifli Hasan, Priyo Budi Santoso,  Herry Suhardiyanto, dan Hatta Rajasa, untuk menjadi ketua umum.

Penunjukan Jimly sebagai ketua umum periode 2015-2020 yang didasari musyawarah untuk mufakat tidak lepas dari keberadaan beberapa calon lainnya dalam tim formatur yang mempunyai latar belakang politik, misalnya Zulkifli, Priyo, dan Hatta. “Ini untuk menghindari jangan sampai dipersepsikan bahwa ICMI memiliki afiliasi ke satu partai atau ormas,” kata Jimly dalam jumpa pers seusai penutupan Muktamar VI, di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahad.

Ia berkomitmen menyusun kepengurusan secara profesional dan akomodatif dengan mengonsolidasikan seluruh kekuatan besar cendekiawan Muslim. “Apalagi, ICMI selama ini merupakan tempat berkumpul kaum Muslimin yang berbeda latar belakang.”

Jimly  berencana melanjutkan sejumlah program yang dijalankan pengurus sebelumnya, di antaranya Satu Desa Satu Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang menargetkan 72 ribu desa di seluruh Indonesia. Ia juga akan membuat sejumlah program baru.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa ICMI mesti menjadi organisasi yang mampu memberi pencerahan dan menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin. Ia menilai konsep tersebut sangat penting untuk dipahami di tengah maraknya Islamofobia dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam.

Jimly menyatakan, untuk mencapai itu semua, seluruh elemen bangsa termasuk para pemimpin harus bersatu terlebih dahulu. “Kita harap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla tetap kompak dan jangan sampai diadu domba,” ungkap Jimly.

Menurut dia, Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam, dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun Indonesia. Konsep ini merupakan rekomendasi muktamar yang berlangsung pada 11 hingga 13 Desember 2015 tersebut.

Jimly menjelaskan, pendekatan Islam rahmatan lil alamin mencakup sejumlah hal, di antaranya penguatan iman dan takwa. Ini merupakan hal utama yang perlu ditekankan oleh bangsa Indonesia sehingga mewujud sebagai kesalehan pribadi dan sosial.

Karena itu, ICMI terus mendorong gerakan shalat berjamaah dan memakmurkan masjid, pencegahan pornografi, narkoba, hingga perilaku menyimpang seperti lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT), serta penguatan solidaritas sosial.

Selanjutnya, pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Jimly menilai, bangsa yang maju dan sejahtera adalah bangsa yang menguasai iptek tingkat tinggi. “Indonesia harus menguasai itu semua,” katanya menegaskan.

Menurut Jimly, Indonesia sudah merintis teknologi nuklir dan dirgantara sejak masa pemerintahan Presiden Sukarno, yang dilanjutkan penguatan teknologi tinggi dan strategis di masa Presiden Soeharto dan BJ Habibie.

Hal lain yang harus menjadi perhatian, kata Jimly, adalah kemandirian dan kesejahteraan ekonomi. Jimly mengungkapkan, dalam sejarah bangsa ini, Indonesia belum pernah mengalami kesenjangan ekonomi selebar sekarang.

Dengan rasio Gini 0,41, kesejahteraan masyarakat benar-benar terpolarisasi. “Mayoritas masyarakat (umat Islam) hanya menguasai minoritas porsi ekonomi nasional, sedangkan minoritas (non-Islam) menguasai mayoritas porsi ekonomi nasional,” ujar Jimly.

Alih-alih bersatu dan membangun politik bersih untuk memajukan ekonomi masyarakat, ia mengatakan, banyak pemimpin umat justru meributkan perbedaan pandangan keagamaan dan bahkan terlibat dalam politik kepentingan yang kotor.

Pergantian sistem

Mantan ketua presidium ICMI, Sugiharto, mengatakan, kepemimpinan ICMI yang sekarang dipegang Jimly menggunakan sistem ketua umum dan wakil ketua umum karena sistem presidium yang telah berjalan beberapa lama terbukti tidak berjalan efektif.

Saat sistem presidium masih berlaku, ketua presidium yang terdiri atas lima orang memimpin secara bergiliran. Setiap ketua presidium menjalankan tugasnya hanya selama satu tahun. Sekarang, jelas dia, masa kepemimpinan ketua umum ICMI lebih lama, yakni lima tahun.

“Oleh karena itu, barangkali yang terbaik adalah sistem ketua umum dengan periode lima tahun,” ungkap Sugiharto. Ia menjelaskan, proses pemilihan ketua umum ICMI yang berlangsung lancar tanpa keributan menunjukkan kedewasaan anggota ICMI.

Sugiharto menegaskan pula, tak boleh ada politisasi ICMI karena ini merupakan organisasi yang di dalamnya terdapat kejujuran ilmiah, akhlak mulia, dan kepedulian. “Maka, harus digarisbawahi, kita tidak akan memolitisasi ICMI.”

Pimpinan sidang muktamar, Priyo Budi Santoso, mengungkapkan, sempat terjadi proses yang cukup alot karena muncul perbedaan pendapat yang disuarakan organisasi satuan terkait hak pilihnya. Namun, itu dapat diselesaikan dengan baik.

Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan penyaringan calon ketua umum. Dalam proses penghitungan suara yang berlangsung hingga Ahad pukul 05.54 WITA, dari 63 calon yang dipilih langsung organisasi wilayah dan organisasi daerah terpilih 15 kandidat ketua umum.

Dari 15 kandidat disaring lagi menjadi tujuh orang sebagai formatur, yakni Jimly 333 suara,  Ilham Akbar Habibie 311 suara, Muhammad Nuh 241 suara, Zulkifli Hasan 221 suara, Priyo Budi Santoso 176 suara, Herry Suhardiyanto 163, dan Hatta Rajasa 150 suara. “Kami bertujuh sepakat memilih Pak Jimly sebagai ketua umum ICMI yang baru,” ujar Priyo.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *