ICMI Diminta Atasi Masalah Bangsa

 

pra-muktamar-keenam-dan-milad-ke-25-icmi-di-di-_151211185628-862ICMI diharapkan bisa melahirkan pengusaha Muslim yang bisa mengisi kemandirian dan martabat ekonomi Indonesia.

MATARAM–Seluruh anggota Ikatan Cendekiawan Muslim seIndonesia (ICMI) diminta untuk ikut mengatasi berbagai masalah yang dihadapi bangsa. Kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia hanya dapat dicapai jika seluruh elemen secara bersama-sama memperbaiki kondisi saat ini dengan menggerakkan perekonomian.

Pernyataan tersebut diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat membuka Muktamar VI dan Milad ke-25 ICMI di Aula Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (12/12). JK menegaskan, Indonesia bisa meraih martabatnya jika berhasil dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya.

“Bermartabat selalu lebih lengkap apabila dicapai tiga hal, berdaulat di bidang politik, budaya, dan mandiri ekonomi,” ungkapnya di hadapan peserta Muktamar VI ICMI. Ia memaparkan, saat ini sebanyak 50,3 persen kekayaan Indonesia dikuasai oleh satu persen penduduk. Kondisi ini, lanjut JK, menunjukkan ketimpangan yang luar biasa.

Wapres mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama mengurangi ketimpangan ekonomi yang luar biasa ini. “Kita harus mengatasi masalah bangsa ini bersama- sama,” ujar JK. Ia berharap, seiring meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, ketimpangan ekonomi Indonesia akan semakin berkurang.

“Meningkatnya jumlah kelas ekonomi menengah di Indonesia ini bisa turut andil dalam memperbaiki perekonomian masyarakat Indonesia,” ucap JK. Wapres meminta agar seluruh mahasiswa Indonesia untuk terus aktif memikirkan dan menyumbangkan ide-ide dan pemikirannya untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Lahirnya ICMI, kata dia, tak bisa lepas dari peran besar mahasiswa.

Ketua Presidium ICMI Sugiharto mengungkapkan, sebagai organisasi cendekiawan yang berbasis pada keindonesiaan, keislaman, dan kecendekiawanan dalam bingkai NKRI, ICMI secara konsisten fokus pada lima K, yaitu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan, pikiran, kerja, karya, dan hidup.

Meski usia ICMI masih relatif muda, kata dia, dengan memiliki 43 organisasi wilayah (Orwil) di seluruh Indonesia, termasuk di luar negeri, ICMI telah memberi dampak dan warna bagi bangsa Indonesia, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, maupun budaya.

“Sesuai arahan presiden dalam audiensi beberapa waktu lalu, selain kelas bawah, ICMI juga perlu memfokuskan program untuk kelas menengah, khususnya untuk ekonomi.

Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan perkembangan kelas menengah terbesar di dunia,” paparnya.
Karena itu, lanjut Sugiharto, ICMI perlu mengakomodasi kelas menengah dalam program bidang ekonomi. Produktivitas kelas menengah, kata dia, bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga, pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk luar.
Bendahara ICMI Sandiaga Salahuddin Uno berharap, ICMI mampu memberikan kontribusi lebih mak simal lagi pada masa yang akan datang. “Tema Muktamar VI membangun Indonesia bermartabat.
Saatnya ICMI memberi suatu solusi yang konkret kepada bangsa ini,”
tuturnya.

Sandiaga menilai, bangsa yang bermartabat bukan hanya bermartabat secara harga diri maupun reputasi, melainkan juga mengenai ekonomi. “Kita mendorong bagaimana ICMI bisa melahirkan pengusaha- pengusaha Muslim yang bisa mengisi kemandirian dan martabat ekonomi Indonesia. Ini yang kita harapkan,”
tegas pengusaha nasional ini.

ICMI, lanjutnya, akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi dan usaha di dalam negeri menjadi lebih ramah.

Dengan begitu, kata Sandiaga, akan lahir pengusaha-pengusaha muda di Indonesia. “Selama ini kanbanyak kendala dalam perizinan, ini yang kita dorong lebih menghadirkan iklim usaha yang lebih kondusif.”
Iman dan iptek ICMI juga bertekad untuk terus menggalakkan program i-Masjid.

Presidium ICMI Ilham Akbar Habibie berharap, dengan adanya i-Masjid, seluruh masjid yang ada di Indonesia dapat terintegrasi melalui perangkat jaringan. Program i-Masjid bertujuan untuk mewujudkan fungsi masjid sebagai wadah sosial dan pusat pelayanan publik.
Program i-Masjid, kata Ilham, bisa menyatukan masjid-masjid di Indonesia agar bisa bekerja sama.
ICMI terus berupaya bagaimana infrastruktur bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. “Masjid itu titik temu antara iptek dan imtak.”

Pada muktamar kali ini, muktamirin sepakat ICMI kembali menggunakan sistem ketua umum, bukan lagi presidium. Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie menegaskan tidak akan ada politik uang dalam pemilihan ketua umum ICMI.

“Kalau di ICMI agak tidak terlalu ketat persaingannya, siapa yang mau silakan, dan yang dipilih cuma tujuh, nanti memilih satu orang ketua umum.
Nggakada money politic,”

kata mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu. Menurut dia, ICMI berbeda dengan partai politik meski banyak dari anggotanya berasal dari partai. ICMI selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan.

Muktamar VI dan Milad ke-25 ICMI ini sengaja dihelat di kampus.
“Kita nostalgia bagaimana pertama kali ICMI didirikan di Universitas Brawijaya 25 tahun lalu dan sekarang kita kembali ke kampus,” cetus Sugiharto.

Saatnya ICMI memberi suatu solusi yang konkret kepada bangsa ini.

 

 

MUHAMMAD NURSYAMSYI DESSY SUCIATI S

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *