Habibie Inginkan ICMI Beri Sumbangan Nyata

Habibie Inginkan ICMI Beri Sumbangan Nyata

ketua-dewan-kehormatan-icmi-bj-habibie-_150524182846-681MATARAM –Milad ke-25 sekaligus Muktamar ke-6 Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) digelar di Mataram, NTB, sejak Jumat (11/12) hingga Ahad (13/12) nanti. Pendiri ICMI sekaligus presiden ke-3 RI BJ Habibie berpesan agar ICMI memberikan sumbangan nyata pada negeri.

Dalam sambutannya yang disampaikan melalui rekaman video, Habibie mengatakan, sumbangan yang diberikan ICMI berupa kebebasan tanpa mengorbankan kemerdekaan. “Kita harus tahu manusia butuh dua hal, merdeka dan bebas. Ada manusia yang merdeka, tapi tidak bebas, ada manusia bebas, tapi tidak merdeka,” ujarnya.

Ia menginginkan ICMI berperan dalam tiga elemen yang menentukan produktivitas dan pada akhirnya menjadi keunggulan. Pertama budaya, kedua agama, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia berharap dan meyakini, dalam 25 tahun yang akan datang, ICMI bisa meningkatkan kualitas kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya. Dan, pada khususnya, mampu meningkatkan keunggulan manusia Indonesia sehingga cita-cita membangun masyarakat adil, makmur, tenteram dapat tercapai.

Dalam pesan yang ia sampaikan, Habibie memohon maaf tak dapat hadir dalam milad dan muktamar. Meskipun begitu, ia menegaskan bahwa hatinya dekat dengan para peserta. “ICMI kawan seperjuang an saya selamat berjuang, persiapkan pikiran baru menuju Indonesia yang kita kehendaki, modern, tenteram, dan sejahtera. Selamat bekerja dan selamat berjuang,” katanya menambahkan.

Setiap lima tahun sekali, ICMI menyelenggarakan muktamar untuk memilih pemimpin yang baru. Dalam dua periode terakhir, ICMI dipimpin lima presidium melalui sistem demokrasi. Pada periode mendatang, jumlah presidium tersebut kemungkinan bisa ditambah.

Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie berharap, usia 25 tahun mampu menjadikan gerakan ICMI lebih matang dengan memiliki basis yang jelas. Menurutnya, ICMI harus menggencarkan gerakan pemikiran dan gerakan aksi terhadap perubahan perbaikan. “Sehingga, tidak mungkin tidak diperhitungkan,” ungkapnya di Mataram, kemarin.

Jimly menambahkan, ICMI harus memberikan pengertian pesan-pesan Islam sebagai agama universal sepanjang sejarah. Terlebih, saat ini dunia Islam sedang menghadapi masa-masa sulit dengan banyak dihinggapi penyakit konflik besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Arab Saudi nggakpernah ikut (perang), tapi sekarang ikut giring pasukannya ke Yaman,” lanjutnya.

Selain itu, di dunia Barat, nama Islam dicitrakan sebagai hal yang negatif. Sebab itu, ada ke pentingan Muslim untuk menampilkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil `alamin. “Dan, ini jadi satu isu penting untuk jadi catatan kita sebagai cendekiawan Muslim menampilkan Islam dengan wajah damai dan modern,” ujar Jimly.

Di dalam negeri, ia mengatakan, Indonesia sedang menghadapi banyak masalah. Sejak era reformasi, banyak yang berebut kekuasaan dengan mengandalkan kekayaan yang dimiliki.

Ia mengatakan, Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia tidak sanggup bergaul dengan kekayaan dan kekuasaan secara tepat.

ICMI, ia harapkan, mampu menunjukkan kemampuan untuk membenahi persoalan ini dengan memperbaiki akhlak.

“Marilah bantu bangsa Indonesia yang sedang bergolak untuk memperbaiki akhlak bangsa ini. Tema besar kaum cendekiawan Muslim harus menyumbang, supaya bangsa kita berakhlak,” ucap dia.

Ketua ICMI wilayah Nusa Tenggara Barat Sunarpi menilai, sejauh ini organisasinya tidak membumi dalam upaya mengentaskan persoalan persoalan- persoalan bangsa. Hal itu, menurutnya, harus diubah. “ICMI harus kembali pada khitah awal perjuangan Islam, ilmu pengetahuan menjadi pemimpin dalam beraktivitas membangun bangsa. Itu tugas berat ICMI,” katanya.

Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Sugiharto mengatakan, ada yang berbeda dalam Muktamar ke-6 ICMI kali ini. Salah satunya ialah sistem pemilihan presidium lewat musyawarah mufakat. “Banyak suara dari daerah, hampir 99 persen menginginkan agar dilakukan musyawarah mufakat,” katanya.

Soal jumlah ketua presidium, ia menyatakan, sedang dipertimbangkan jumlahnya lebih dari lima pemimpin. Selain itu, akan ditegaskan pula bahwa ketua presidium tak boleh ber asal dari parpol.

Dalam muktamar kali ini, Sugiharto mengatakan, akan ada dua hal yang dihasilkan. “Pertama, sistem pemilihan presidium yang baru, tentu dengan perubahan anggaran dasar. Kedua, menetapkan garis atau pokok- pokok progran ICMI ke depan.”

Mengingat besarnya tantang an, baik dari bidang ekonomi, politik, iptek, maupun pendidikan, menurutnya, ICMI akan berupaya keluar dengan pikiran-pikiran terobosan. Salah satu terobosan itu, kata dia, adalah upaya mengegolkan undang-undang yang menegaskan hak publik untuk mendapatkan berita yang jujur dan adil.

Ia mengatakan, pemberitaan di berbagai media, terutama televisi yang menggunakan frekuensi publik, dijejali banyak kepentingan. Hal itu, kata Sugiharto, perlu ditertibkan. “Penguasaan ekonomi dipegang oleh mereka yang punya konflik kepentingan, dari 10 konglomerat, 7 kuasai media, dan itu berbahaya,” kata dia.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *