Gagasan ICMI Harus Mampu Mentransformasi Bangsa

wapres-buka-muktamar-icmi-ntbKiprah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah nyata tampak bagi bangsa. ICMI tampil memelopori kebangkitan umat dengan gagasan-gagasan brilian. Itulah yang ditunggu-tunggu umat Islam saat ini dari ICMI.

Dekan FEMA Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria mengatakan, gagasan-gagasan ICMI ke depan harus merupakan gagasan yang sifatnya strategis. Diawali dengan gagasan, kemudian implementasi, serta menyentuh titik penting baik secara politik maupun ekonomi.

“Karya yang akan dilahirkan ICMI ke depan ini harapannya yang bersifat unik, bukan yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat saat ini. Sebab, yang menjadi khasnya ICMI adalah teknokrat plus ideologis,” kata anggota dewan pakar ICMI ini. Simak petikan wawancara dengan wartawan Republika, Hannan Putra, selengkapnya.

-Apa rumusan penting dari Muktamar ICMI kali ini? Harapan kita, ICMI mampu merumuskan revitalisasi peran cendekiawan Muslim dalam mentransformasi bangsa ini. Dalam muktamar ini mudah-mudahan hadir gagasan-gagasan yang yang bisa mewarnai bangsa ini.

Proses transformasi bangsa ini harus dimulai dari karya-karya nyata dari para cendekiawan Muslim. Jadi, tidak hanya sekadar gagasan, tapi juga bagaimana gagasan tersebut bisa diimplementasikan. Misalkan, rumusan ICMI dalam pengembangan bank syariah. Alhamdulillah, hadir Bank Muamalat dari gagasan tersebut.

ICMI era sekarang apa? Kalau dulu bisa melahirkan Bank Muamalat dan Republika. Kalau dulu gagasan-gagasan yang dilahirkan bisa mentransformasi ekonomi Indonesia, sekarang ini yang ditunggu bangsa. Kalau Bank Muamalat itu ada gagasan-gagasan yang sifatnya struktural. Maksudnya, gagasan itu masuk dalam ranah undang-undang dan sebagainya.

Harapan kita, gagasan-gagasan ICMI ke depan harus merupakan gagasan yang sifatnya strategis. Diawali dengan gagasan, kemudian implementasi, serta menyentuh titik penting baik secara politik maupun ekonomi.

-Apa karya masterpiece ICMI ke depan? Harus memperhatikan isu-su lingkungan, pangan, energi, kemaritiman, serta isu-isu yang seksi lainnya. ICMI harus berada dalam mainstream perubahan dan menjadi pengendali perubahan. Jadi, harapannya ICMI tidak terbawa dengan perubahan yang ada, tetapi dialah yang menjadi pengendalinya.

Isu-isu yang menarik, seperti gerakan lingkungan, pangan, energi, dan sebagainya, ICMI harus hadir di situ. ICMI harus bisa menjadi penentu arah, sebagaimana dulu di era Bapak Habibie. Sekarang tampaknya belum ada gerakan yang sistematis ke arah itu.

Karya yang akan dilahirkan ICMI ke depan ini harapannya yang bersifat unik, bukan yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat saat ini. Sebab, yang menjadi khasnya ICMI adalah teknokrat plus ideologis. Kalau yang lain kan teknokratik biasa. Jadi, di ICMI ada proses ideologisasi yang berjalan. Misalkan, Bank Muamalat sebagai cerminan ICMI dalam berideologi. Itu proses ideologinya jelas.

-Apa capaian dari gerak cendekiawan Muslim hingga hari ini? Yang namanya cendekiawan Muslim harus punya peran. Peran yang sudah nyata saat ini ada di dunia pendidikan. Kita harapkan bisa menyentuh semua aspek kehidupan. Karya mereka bisa terpakai dan punya aspek manfaat. Sekarang ini sudah banyak gagasan baru dari cendekiawan Muslim. Misalkan, gagasan soal lingkungan dan sebagainya.

ICMI sendiri sudah mulai ke arah sana. Harus ada gagasan tentang langkah adabtasi dan meditasi perubahan iklim dengan cara pandang yang berbeda dari yang lain. Misalkan, kita mengombinasikan arah temuan tenokratik dari saintifik dengan temuan yang sifatnya normatif dari ayat-ayat Alquran.

Saat ini peran agama dan cendekiawan dalam aspek lingkungan belum terlalu besar. Jadi, peran dalam konteks perbaikan lingkungan saat ini masih didominasi NGO. ICMI hendaknya melahirkan gagasan-gagasan cerdas tentang perbaikan lingkungan itu.

-Apa saja pasang surut dalam dunia pemikiran Islam? Sekarang ruang pemikiran tidak berkembang seperti dulu. Orang sekarang cenderungnya pragmatis. Apalagi, di era politik seperti sekarang, hasrat orang-orang yang cerdas untuk menjadi politisi semakin banyak ketimbang menjadi cendekiawan.

Memang itu penting untuk dimasuki oleh cendekiawan Muslim. Tetapi, menurut saya, ranah politik dan ranah pemikiran adalah dua wilayah yang harus sama-sama berkembang. Politik praktis diisi oleh orang-orang yang memiliki idealisme dan kapabilitas yang baik. Di sisi lain, dunia pemikiran juga harus berkembang dan jangan ditinggalkan.

ICMI, harapan saya, jangan terjebak hanya dalam persoalan politik praktis, bagaimana gagasan ICMI untuk perubahan. Politik praktis hanya salah satu cara untuk menyelamatkan bangsa ini. Tapi, gagasan utamanya adalah mentransformasi bangsa ini ke arah yang lebih baik.

-Anak-anak muda mulai jarang tertarik menjadi cendekiawan Muslim, apa faktornya? Saya rasa karena dorongan dan euforia politik yang luar biasa di era sekarang ini. Politik bahkan sudah menjadi industri. Orang tidak hanya sekadar menjadi politisi. Mereka akan terlibat dalam proses politik itu sebagai lembaga survei, kajian konsultan politik, dan sebagainya. Ini menarik sekali bagi orang-orang pintar dan menjadi pasar yang luar biasa.

-Idealnya bagaimana hubungan cendekiawan Muslim dengan penguasa? Cendekiawan Muslim harus tetap kritis, namun tidak alergi terhadap politik. Karena, gagasan-gagasan dari cendekiawan ini harus diterima oleh para politisi dan pengambil keputusan. Jadi, harapannya tak ada gap antara cendekiawan dan penguasa. Jadi, gaya-gaya berkomunikasi sangat penting untuk diperhatikan.

Kekuasaan hanya sebagai alat, bukan tujuan. Persoalannya sekarang, banyak orang yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan. Orang cendekia harusnya memandang kekuasaan sebagai alat untuk menciptakan kemaslahatan dan alat untuk mentransformasi masyarakat ke arah yang lebih baik.

Pada dasarnya, tidak ada salahnya para cendekiawan dekat dengan kekuasaan dalam rangka untuk memberikan masukan serta ide briliannya. Tetapi, independensinya harus terjaga dengan baik.

-Masihkah ada gap antara para cendekiawan Muslim dan umat? Menurut saya masih ada. Para cendekiawan yang ada sekarang belum mampu menjawab persoalan-persoalan umat Islam yang ada sekarang ini. Umat Islam saat ini adalah mayoritas. Tentu mereka membutuhkan figur teladan. Harusnya cendekiawan Muslim ini hadir bersama figur-figur teladan ini untuk menyelesaikan persoalan bangsa di lapangan.

Persoalan kemiskinan, gizi, lingkungan, pangan, dan seterusnya, terkadang ini luput dari perhatian cendekiawan Muslim. Jadi, cendekiawan Muslim harus segera hadir di lapangan dan menjadi pelopor di masyarakat. Cendekiawan Muslim tidak hanya berbicara konsep, tetapi juga pada tataran yang lebih implementatif dan riil.

-Benarkah gerakan pemikiran Islam lesu? Bisa dikatakan demikian. Penyebabnya, forum-forum diskusi dan kajian sudah mulai langka. Di lingkungan mahasiswa sendiri yang biasanya berkutat dengan kajian-kajian, ternyata forum-forum itu sudah jarang ditemui. Kita saat ini memasuki era pragmatis dan era sosial media.

Kecenderungan orang sekarang, orang lebih suka menulis pendek dan sedikit. Upaya untuk mengembangkan gerakan pemikiran itu dengan menulis kajian-kajian, tulisan di media-media, itu sudah jarang diminati. Melihat sebuah tulisan panjang dan lengkap, kebanyakan orang sudah mulai malas membaca.

Harusnya era sosial media ini sebagai wadah dan kesempatan bagi cendekiawan untuk bersosialisasi dan mengampanyekan ide-idenya.

 

 

: hafidz muftisany/REPUBLIKA

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *