Cendekiawan dan ICMI

icmi_101202140042Selama 25 tahun Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah sukses membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Terutama peran ICMI dalam memasukkan nilai-nilai keislaman berbarengan dengan nilai keindonesiaan dan kecendekiaan.

Dalam bidang ekonomi, ICMI berhasil melahirkan Bank Muamalat. Kemudian, untuk merespons pentingnya media komunikasi, ICMI mendirikan harian Republika.

Peran dan karya besar ICMI tersebut dilahirkan saat dekat dengan kekuasaan. Menurut Ketua Dewan Penasehat ICMI Jimly Asshidiqie, kedekatan dengan penguasa diperlukan ketika ingin berperan di negara yang sedang berkembang.

“Kalau negara maju, dunia kecendekiaan seperti perguruan tinggi tak perlu dekat-dekat dengan penguasa. Tapi, di negara yang sedang tumbuh di mana jumlah sumber dayanya masih terbatas maka ada kebutuhan untuk dekat dengan pemerintahan,” jelas Jimly , Rabu (9/12) lalu.

Menurut Jimly, itulah alasannya mengapa ICMI terkesan sangat dekat dengan penguasa. “Sesudah Reformasi, ICMI tak bisa memisahkan diri dengan pemerintahan. ICMI juga mengambil jarak yang sama dengan semua partai supaya tidak ada beban dengan partai yang memenangkan pemilu,” jelasnya.

Selama 25 tahun ICMI tak pernah mau ikut campur dalam ranah politik praktis. Beberapa kader ICMI memang politisi, tetapi mereka tak mau memakai baju partai ketika pulang ke rumah ICMI. Menurut Jimly, inilah etika dari cendekiawan ICMI. “ICMI tak boleh dekat dengan salah satu partai, tapi harus dengan semua. Sehingga, dia bisa diterima oleh semua,” jelasnya.

Jimly mengatakan, idealnya seorang cendekiawan besutan ICMI adalah figur yang kritis, berintegritas, dan independen. Cendekiawan sejatinya harus bisa menjadi model dan teladan di tengah-tengah masyarakat. “Keislaman, keindonesiaan, dan kecendekiaan harus utuh dalam diri seorang cendekiawan Muslim,” ujarnya.

Jimly menampik jika ada desas-desus yang menyebut kiprah ICMI cenderung lesu. Menurutnya, ICMI terus menunjukkan kiprah hingga saat ini. “Mungkin tidak menonjol dari kacamata politik. Karena, peran politik ICMI sudah diambil oleh partai politik. Kalau orang menempatkan ICMI sebagai peran politik, tentu tidak berhasil,” jelasnya.

Kendati secara kelembagaan tak terjun ke kancah politik, ICMI diharapkan ikut menjaga martabat bangsa. Menurut Jimly, bahasan penting dalam muktamar ICMI mendatang bagaimana upaya para cendekiawan untuk menjaga martabat bangsa. “Kita sedang berada dalam situasi yang genting dari segi martabat. Soal profesionalisme dan integritas, para pejabat ini perlu jadi perhatian,” jelasnya.

“Kita ingin memberikan arah moral bagi perjalanan bangsa ini yang lebih profesional berintegritas. Itulah ciri cendekiawan yang sumbangsihnya bagi pembangunan bangsa sangat diperlukan,” katanya.

Presidium ICMI Sugiharto menambahkan, falsafah dasar ICMI, yakni keislaman, keindonesiaan, dan kecendekiawanan harus terwujud dalam diri seorang cendekiawan ICMI. “Kencendekiawanan di sini adalah kejujuran ilmiah. Tidak cukup orang yang bergelar doktor dan profesor kalau tidak jujur. Cendekiawan yang kami maksud adalah menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dan orang yang peduli terhadap nasib bangsa,” ujarnya.

Sugiharto juga mengamini pendapat Jimly yang mengatakan ICMI tidak mau terjun ke kancah politik. “ICMI tidak berpolitik. Walau ada Pak Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, Bu Marwah, dan sebagainya, ketika bicara di ICMI kita hanya bicara keislaman, keindonesiaan, dan kecendekiawanan,” jelasnya.

Sejak awal didirikan hingga sekarang, menurut Sugiharto, ICMI tetap relevan dengan lima program yang disebut 5K. “Pertama, Kualitas imtak dan iptek. Kemudian menghasilkan Kualitas pikir. Kemudian menghasilkan Kualitas kerja. Kemudian Kualitas Karya. Dan akhirnya menghasilkan Kualitas Hidup. Ini yang tetap relevan untuk mengawal longmarch NKRI,” katanya memaparkan.

Sugiharto mempersilahkan anggota ICMI untuk aktif sebagai kader politik. Aktivis ICMI sendiri juga berasal dari berbagai kelompok, golongan, dan ormas. “Di sini bertemu orang-orang dari Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, dan sebagainya. Tapi, ketika bertemu di ICMI, kita hanya bicara tiga hal tadi,” jelasnya.

ICMI juga mendukung penuh program pemerintah dan presiden. “Kita menjunjung tinggi dan mendukung siapa pun presidennya. Ketika memilih presiden, seluruh programnya menjadi relevan untuk didukung oleh program ICMI. Kita netral ketika berada di ICMI,” ujar Sugiharto.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *