Catatan Muktamar ICMI di Lombok

Muktamar ICMI

 

 

 

 

HARI ini Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melaksanakan Muktamar ke-6 sekaligus Milad ke-25 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru dan secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Baharuddin Jusup Habibie sebagai ketua umum ICMI yang pertama.
Dalam sambutannya, ia mengatakan dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tapi juga berkomitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia. Sebab, itu merupakan tugas utama. Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan perkem¬bangan global dan regional di luar dan dalam negeri.

Menjelang akhir dekade 1980 dan awal dekade 90-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi.

Kini di tengah usianya yang sudah dewasa, tentu masyarakat menunggu gagasan gagasan dan terobosan ICMI dalam menjawab tantangan zaman. Terutama kebutuhan akan solusi dari keterpurukan ekonomi yang kini tengah terjadi. Masyarakat rindu gaya kepemimpinan Habibie yang pada saat krisis ekonomi berlangsung di tahun 1997 mampu memberikan jawaban.

Pengalaman ICMI di bawah kepemimpinan Habibie tentu memberi warna tersendiri. Sebab, ICMI mampu menjadi solusi persoalan bangsa atas keterpurkan ekonomi. Habibie dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan, jika ingin meraih kebahagian, salah satu kuncinya adalah menggunakan uang untuk pengalaman, tapi bukan menggunakan uang untuk membeli keinginan.

Pengalaman pada 1997 harus menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan ICMI pasca Muktamar Lombok. Apalagi, usia 25 tahun bagi ICMI tentu harus semakin matang dan dewasa untuk menyikapi setiap persoalan dan dinamika kebangsaan.

Di tengah dinamika politik dan kegaduhan yang ada saat ini, ICMI harus mampu menjadi perekat bangsa melalui terobosan ekonomi yang kuat. ICMI diharapkan dapat menjadi perekat untuk menghadirkan semangat bangkit dari berbagai kedaruratan yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan ICMI sudah diterima di seluruh masyarakat Indonesia, bahkan sudah diterima di seluruh lini, ormas dan profesi.
ICMI pun sudah berusia cukup dewasa ya mestinya memang perannya penting untuk lebih dikonkretkan lagi dalam merealisasikan makna atau fungsi dari cendekiawan muslim, baik dari ide atau anggotanya yang sudah menyebar di seluruh pelosok.

Saat ini Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat, baik darurat korupsi, darurat narkoba, kejahatan pada anak, darurat asap, darurat ekonomi dan lain sebagainya. Ditambah Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan era globalisasi. Melihat kondisi seperti ini, maka cendekiawan muslim sudah seharusnya berada di garda terdepan untuk menghadirkan semangat. Sehingga Indonesia tidak berkepanjangan berada dalam kondisi darurat ini.
Sudah sangat dipahami hancurnya suatu bangsa atau suatu umat bukan karena hebatnya penjahat tapi karena orang-orang cendekiawan muslim yang tidak mau istiqamah berada di garda terdepan untuk selamatkan umat. Terakhir dalam Muktamar ICMI nanti diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi terkait masalah atau hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia saat ini.

Salah satunya yakni perpanjangan kontrak Freeport. ICMI juga harus merekomendasikan agar pemerintah mengakhiri kontrak dengan Freeport sambil memberikan jalan keluar keterpurukan ekonomi bagi rakyat. Semangat kebangkitan harus terus digemakan ICMI demi menjaga kedaulatan Indonesia dari kekuasaan modal asing.
Selamat bermuktamar dan Milad ke-25, terus memainkan peran penting bagi bangsa Indonesia. Jangan pernah putus asa atau bosan untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia dan kemandirian rakyat. Hal ini sesuai dengan keinginan Ketua Umum pertama ICMI Bahharuddin Jusup Habibie dalam sebuah ungkapan yang sangat saya ingat dan begitu memberikan inspirasi: “Kegagalan hanya akan ada bila kita menyerah untuk mencoba”.(*)

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *