Boediono: ICMI Jangan Berwacana di Menara Gading

Jakarta – Wakil Presiden Boediono meminta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) untuk ikut bergabung dalam membangun Indonesia dan tidak hanya terus berwacana. Cendekiawan diminta membangun institusi politik, ekonomi, dan sosial yang baik.

“ICMI sebagai kumpulan cendekiawan yang mumpuni dan tokoh-tokoh nasional merasa terpanggil untuk memberikan jawabannya dan ikut ambil bagian untuk mewujudkannya. Tidak sekedar berwacana di menara gadingnya,” ujar Boediono.

Hal tersebut dikatakannya pada Pembukaan Silaturahim Kerja Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Expo 2012 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2012).

Menurut Boediono, setiap warga negara, termasuk cendekiawan di dalamnya harus ikut mengambil bagian secara nyata dalam upaya besar menata dan memajukan bangsa, dalam membangun peradaban bangsa.

“Kita tidak boleh terjebak dalam pemikiran bahwa kita harus menunggu hadirnya seorang manusia yang kemampuannya serba unggul yang akan memimpin bangsa kita,” terangnya.

Kunci kemajuan bangsa terletak kemampuan untuk membangun institusi sehingga dapat bergungsi dengan baik. Institusi yang dimaksud adalah politik, ekonomi, hukum, sosial dan semua intitusi yang merupakan pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Di sinilah, menurut pandangan saya, para cendekiawan kita dapat mengambil bagian dan berkontribusi secara nyata kepada bangsa, peran yang diharapkan dari para cendekiawan adalah turut aktif meningkatkan mutu, meningkatkan kinerja dari institusi-institusi itu,” kata Boediono.

Pada kesempatan itu, Boediono menyoroti peran cendekiawan dalam bidang politik. Bagi Boediono, para generasi muda tidak takut untuk terjun di dunia perpolitikan, dunia politik praktis. Sebab di situlah terletak taruhan terbesar masa depan bangsa.

Boediono menyadari, seorang cendekiawan akan menghadapi dilema dalam kegiatannya di dunia politik. Ia akan dihadapkan terus menerus dilemma antara pragmatism dan idealism, antara obyektifitas dan subyektivitas, antara kepentingan sempit dan kepentingan yang lebih besar, antara etika dan praktikalitas.

“Ini semua adalah tantangan besar yang dihadapi cendekiawan di dunia praktis. Tapi siapa lagi yang dapat kita harapkan untuk mengangkat mutu institusi-institusi politik kita, kalau bukan para intelektual dan putra-putri terbaik kita?” ucapnya.

icmijabar

ICMI Orwil Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *